MEDAN (podiumindonesia.com)- Wakil Sekretaris Yayasan Masjid Al Jihad Medan Baru, Irfan S, menanggapi polemik baliho di halaman depan Masjid Al Jihad di Jalan Abdullan Lubis, Kota Medan. Baliho itu menjadi perbincangan dan menimbulkan berbagai persepsi. Bahkan menjadi viral di media sosial.
Irfan menilai, polemik itu berlebihan. Menurut dia, baliho yang dipasang sepekan lalu itu bertujuan untuk menghimbau jemaah masjid saja.
“Kan, tidak ada pakai paslon-paslon. Jadi hanya untuk mengimbau jamaah Masjid Al Jihad agar memilih pemimpin sesuai Alquran. Itu aja, tidak yang lain..,” kata Irfan, kemarin.
Irfan pun mengomentari kontroversi yang ditimbulkan bahkan disangkutpautkan dengan Pilkada Sumatera Utara hingga menimbulkan isu agama.
“Tidak hanya Islam, setiap agama punya seruan yang sama. Kalau kita di Papua, ya gak mungkinlah pemimpin Islam di sana, di NTT misalnya, atau di Bali,” imbuhnya.
“Begitu juga di daerah yang mayoritasnya Islam. Ya kita harus menyerukan pemimpinnya Islam. Nah, kalau ada yang tersinggung soal ini, aneh saja, lebay,” ucapnya.
Pasalnya, lanjut Irfan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumut sudah mengeluarkaan penyataan tidak ada yang melanggar aturan dalam baliho tersebut.
“Siang tadi keluar pernyataan Bawaslu bahwa tak ada masalah. KPU kemarin juga bilang tidak ada masalah,” imbuhnya.
“Karena tidak ada dibilang atau simbol-simbol nomor satu atau nomor dua di situ. Djarot juga Islam, Bang Edy juga Islam, kan gitu. Nah, kita menyerukan yang dari dulu sudah ada di Alquran, itu aja,” ungkapnya. (PI/TRB)







