Beranda OPINI Akhir Masa Ngogesa (Oleh: T Syaiful Anhar)

Akhir Masa Ngogesa (Oleh: T Syaiful Anhar)

285
0

DUA periode menjabat Bupati Langkat. Tak lama lagi sang Bupati Ngogesa Sitepu akan meletakkan jabatan. Kursi empuk tersebut diserahkan kepada Terbit Rencana Perangin-angin-Syah Afandi.

Syukurnya, ketika Kabupaten Langkat dilepas, sedikit nilai plus tertorehkan. Yakni terjadi penurunan angka kemiskinan dan kini yang tersisa hanya 40 persen saja dari jumlah jumlah penduduk sekitar 1.013.385 jiwa.

Di balik itu semua, apa yang sudah dibuat Ngogesa selama dua periode? Sedikit ada perubahan tapi taklah begitu sempurna. Bahkan, di akhir masa jabatan pula terselip duka di wajah-wajah warga dua desa di sana.

Mereka bermukim di Desa Stabat Lama dan Stabat Lama Barat. Seperti tertuang dari warga, mereka agak sulit mencari nafkah. Sebab, yang mereka andalkan hanyalah tenaga. Kembali pertanyaan mencuat, pekerjaan apa yang kerap dilakukan mereka setiap hari?

Kepada redaksi PODIUM warga di dua desa berkeluh kesah. Ya, walau lebih dominan kaum pria merasa resah tapi semuanya berimbas ke rumah tangga. Seorang pria kurus (tak usahlah disebutkan namanya) bilang, beberapa hari lalu usaha tempat mereka cari nafkah diributkan.

Orang-orangnya adalah suruhan Pemkab Langkat yang notabene anak buah Ngogesa sendiri. Selama ini, kata pria beranak lima itu, tiap hari dia hanya sebagai buruh angkut pasir di pantai. Sedangkan pantai itu sendiri, kata dia, cuma dikelola oleh penambang tradisional.

Namun beberapa hari belakangan, laki berusia 50-an tahun itu tak bisa membawa uang pulang ke rumahnya. Pengelola pantai tradisional tersebut, katanya takut membuka usaha, karena adanya penertiban usaha.

Isyarat penyesalan bagi dirinya dan sedikit mengecam Ngogesa yang masa akhir jabatan membuat warganya menangis lebih disebabkan sulit mencari nafkah. Itu cerita pria tersebut.
Dari segelintir kisah buruh angkut pasir, hendaknya menjadi cermin para pemimpin negeri ini. Ngogesa, yang dua periode menjadi jawara seakan meninggalkan bekas luka di hati sekalangan pendukungnya terdahulu.

Ya, Ngogesa memang ‘dikebut’ dengan masa akhir jabatan. Singgasana ‘red karpet’ yang biasanya menjadi pijakan, sebentar lagi diberikan kepada orang lain. Ngogesa wajib ikhlas, Ngogesa wajib legowo dan Ngogesa harus dan harus.

Apalagi drama Juli 2018 masih membekas di benak Ngogesa. Bahwa dirinya dipecat dari Ketua DPD Golkar Sumut. Ngogesa seakan terhentak saat itu. Masa jabatan Bupati Langkat lepas begitu juga seiring gaweannya sebagai orang nomor satu di Golkar Sumut.

Hanya saja, baiknya Ngogesa lebih memikirkan kemaslahatan umat ketimbang mengeluarkan kebijakan yang membawa kepedihan warganya. Akhir masa jabatan Ngogesa selama 10 tahun seolah menjadi hitung-hitungan mencari untung. Akankah Ngogesa tetap dikenang warga Langkat selamanya? Atau rintih yang membekas di hati warga dua desa cemeti hingga akhir hayat? (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini