Beranda OPINI Politik, Massa, Kepentingan & Keuntungan (Oleh: ESP Parinduri)

Politik, Massa, Kepentingan & Keuntungan (Oleh: ESP Parinduri)

263
0


“ADA banyak manusia yang punya prinsip di partai-partai politik di sebuah negara, tapi tidak ada partai yang punya prinsip” (Alexis de Tocqueville). Seolah begitulah yang terjadi di negeri ini.

Prinsip partai tercatat dengan seksama, namun lebih banyak dikesampingkan. Artinya, cuma mengumbar janji, soal realisasi ya nanti dulu. Lihat siapa yang ‘jago’, berkuasa dan punya massa.

Will Rogers juga pernah bilang “Kita punya banyak kepercayaan di negeri ini, tapi kita kekurangan sekali orang baik untuk ditempatkan pada kepercayaan kita”.

Nah, kajian ini kerap mengumbar di masyarakat kita. Apalagi jelang pesta demokrasi lima tahunan pada 2019 nanti. Partai politik berperan penting di sana. Walau, kabarnya menelaah lebih dulu (soal dukungan), hanya saja tak sedikit berbau kepentingan.

Untuk rakyat, terpaksa dinomorduakan. Sedangkan hajat kepada penguasa dinomorsatukan. Inikah politisasi? Inikah hak membela rakyat! Atau inikah gambaran Indonesia maju atau malah kemunduran.

Campur aduk ‘membela’ dan mengadudomba merupakan dikotomi yang sulit dipisahkan. Perbandingan tipis selaiknya kulit ari. Satu sisi berkata ‘tidak’ bagi penguasa yang zholim, di sisi lain ‘ya’ bagi kepentingan segelintir atas nama kepartaian.

Sekarang saja bisa kita lihat, partai politik berpihak kepada kepentingan. Dengan tawaran bahwa orang yang dibela akan menang dan punya posisi nantinya. Andai kalah, pastinya berbalik arah menjadi oposisi. Landasan kepercayaan rakyat pun dihilangkan, membela masyarakat kecil dikucilkan, yang terjadi cuma ikhwal semata.

Membela, cari dukungan massa, kepentingan dan berujung pada keuntungan. Berkoar di tengah kisruh, meski harusnya ‘diam’ dan mencari solusi. Banyak pula yang kadang hanya mencari aman di tengah kegaduhan.

Gambaran telaah dilihat penulis, walau nyata salah namun tetap dibalut kepentingan serta keuntungan. Takut tidak ‘diakui’ hingga rela menjual harga diri. Akhir kalimat rakyat lah yang dibenturkan. Sejatinya, rakyat hanya berharap hidup sejahtera, punya penghasilan mumpuni, bisa melanjutkan pendidikan anaknya dan tidak kekurangan makanan.

Ya itu tadi, semuanya demi kepentingan dan keuntungan. Motto partai tergerus zaman kepemimpinan. Rakyat yang tak percaya pun dipengaruhi dengan iming-iming (lagi-lagi membela). (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini