
MEDAN (podiumindonesia.com)- Menghindari agar anak di bawah umur tidak menjadi korban pelecehan seksual. Maka, orangtua harus lebih ekstra dalam memberikan pengawasan juga ekstra edukasi kepada anaknya.
Menurut Psikolog Irna Minauli yang juga Direktur Minauli Consulting, hal-hal penting yang harus dilakukan orangtua agar anak tidak mudah terbujuk rayuan oleh predator seks, orangtua harus mengajarkan anak untuk tidak mau menerima hadiah tanpa sepengetahuan orangtua.
“Hal yang sering luput dari perhatian orangtua adalah, mengajarkan anak untuk tidak mau menerima hadiah tanpa sepengetahuan orangtuanya. Kebanyakan orangtua justru merasa senang dan menyuruh anaknya untuk meminta hadiah pada orang lain. Pemberian hadiah-hadiah inilah sebenarnya yang menjadi pintu masuk para predator. Oleh karenanya, sejak anak-anak masih kecil, harus dibiasakan untuk menanyakan pada orangtua ketika ada yang mau memberi hadiah, meski hanya berupa permen atau coklat. Jika orangtua setuju maka barulah anak boleh mengambil hadiah tersebut,” jelas Irna Minauli, Selasa (21/12/2021).
Selain itu, anak juga harus diajarkan untuk mengetahui bagian tubuh mana yang boleh dipegang dan mana yang tidak boleh dipegang orang lain. Mengajarkan anak untuk tidak mau diajak ke tempat sepi atau ke kamar orang lain. Menghindar atau lari kalau ada yang mulai menyentuhnya.
“Ajarkan anak untuk berbagi cerita pada orangtuanya, sehingga tidak memendam rahasianya sendirian,” sarannya.
Orangtua, imbau Irna Minauli, harus waspada ketika melihat anaknya mempunyai barang-barang yang tidak pernah dibelikan orangtua. Karena, kemungkinan barang tersebut merupakan hadiah dari pelaku. Tahapan grooming ini kalau bisa diketahui lebih awal, bisa mencegah masuk pada tahap keempat yaitu tahap desensitisasi.
“Peran lingkungan juga sangat besar. Misalnya beberapa kasus yang pernah saya tangani, tetanggalah yang pertama kali melaporkan pada orangtua korban. Orangtua karena sudah terlanjur percaya, maka kewaspadaannya menjadi berkurang. Oleh karenanya, kita semua harus menaruh curiga ketika anak ditinggal berdua saja sama pelaku,” katanya.
Irna Minauli juga menyatakan, para predator seks dan para pelaku kejahatan seksual lain, umumnya adalah seorang yang dekat dengan korban. Mereka sangat sabar menunggu hingga korbannya bisa mereka dapatkan.
Ada empat tahapan pendekatan atau grooming phase yang biasa dilakukan para predator anak ini yang patut diwaspadai orangtua dan anak itu sendiri.
Tahap awal mereka akan melakukan seleksi terhadap calon korbannya. Biasanya mereka yang tidak memiliki ayah atau figur ayah tidak terlalu berperan akan menjadi objek sasaran mereka karena biasanya kalau ada figur ayah, para ayah akan lebih mudah waspada sehingga bisa lebih cepat diketahui. Selain itu, anak-anak yang kurang perhatian dan mereka yang secara ekonomi kurang mampu, akan lebih mudah menjadi korban.
Tahap kedua yang dilakukan predator seks adalah mereka melakukan pendekatan pada korban. Disini mereka mungkin akan menawarkan diri sebagai guru atau penjaga anak tersebut ketika orangtuanya bekerja.
Tahap ketiga, para predator akan mencoba membangun kepercayaan (building trust) sehingga anak merasa nyaman berada bersama predator tersebut. Anak bisa curhat atau mengeluh apa pun yang dirasakan dan predator akan menjadi pendengar yang sangat baik. Mereka kemudian saling berjanji untuk tetap menjaga rahasia tersebut berdua saja.
“Pada tahap ketiga ini, predator mulai memberikan banyak hadiah sehingga dikatakan sebagai “grooming the child”, mendandani anak. Dibelikannya baju baru atau sekedar hal-hal kecil yang disukai anak seperti pita atau jepitan rambut. Bahkan kadang hanya sekedar permen atau coklat. Anak akan dimanjakan dan diajak berjalan-jalan serta mulai diajak ke rumah atau kamarnya. Karena anak atau orangtua merasa nyaman dengan pelakunya, mereka sering tidak menyadari langkah berikut yang dilakukan predator tersebut,” jelasnya.
Tahap keempat, pelaku mulai melakukan “desensitization”. Mereka secara perlahan akan membuat anak merasa bahwa sentuhan tersebut adalah hal biasa. Awalnya anak akan sekedar diajak bermain gelitik-gelitikan, kemudian bergulat, kemudian menyentuh bagian-bagian yang lebih intim.
Pelaku akan membiasakan anak bahwa hal tersebut merupakan hal yang normal dan banyak dilakukan orang lain.
Kemudian mengajak anak menonton video porno sampai anak tersebut merasa terbiasa dengan masalah seks. Disinilah kemudian pelaku mulai melakukan oral seks pada anak tersebut atau anak tersebut diminta melakukannya pada pelaku.
Ketika anak mulai memberontak, pelaku selalu mengingatkan akan janji mereka untuk saling menjaga kerahasiaan. Itu sebabnya banyak kasus yang terlambat diketahui. Apalagi karena pelaku biasanya akan mengeluarkan ancaman untuk membunuh ibunya kalau anak tersebut membocorkan rahasia yang mereka lakukan.
“Tahapan yang dilakukan tergolong cukup lama sehingga orangtua banyak yang tidak menyadarinya. Itu sebabnya, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak sejak dini tentang bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh. Anak juga perlu diajarkan untuk tidak mau diajak berdua saja ke tempat sepi atau ke rumah dan kamar orang lain. Anak harus bisa menghindar atau lari ketika mulai diajak atau disentuh. Selain itu, anak harus berani mengadukan pada orangtua atau orang dewasa lainnya, apa yang dilakukan predator padanya,” katanya. (pi/nan)







