Beranda OPINI Si ‘Loreng’ Nan Garang

Si ‘Loreng’ Nan Garang

235
0

SIAP gerak. Lancang depan, gerak. Hadap kiri, gerak. Hadap kanan, gerak. Maju…jalan. Serempak kaki-kaki kecil itu melangkah menuju podium utama. Ya, itulah kerap dilakukan Ridho, selaku pemimpin upacara di sekolahnya terdahulu.

Kini, Ridho sudah menginjak 20-an tahun. Melewati masa remaja dengan impian menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun sayang, Ridho harus mengubur harapan karena tinggi badannya.

Ridho, mungkin satu dari sejumlah anak-anak semasa itu yang sangat mengidolakan berseragam tentara. Bahkan, saking cintanya kepada TNI, Ridho sempat mengoleksi kostum hijau-hijau itu di kamarnya.

Ridho sekarang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara. Pun tak lolos menjadi TNI, Ridho tak lah patah hati. Dia tetap berjuang di bidang pendidikan.

Cerita Ridho ini sekelumit gambaran bahwa tentara seolah menjadi tujuan untuk mengabdi kepada negara. Mengapa? Karena tentara lah yang sering terlihat langsung bersentuhan dengan masyarakat terutama bermukim di pedesaan.

Nah, saat ratusan tentara memasuki kampungnya untuk kegiatan TMMD ke-103, Ridho terlihat tertegun. Dia memandang serius dari balik sebuah warung kopi. Rasa suka cita yang mendalam, Ridho kembali menyapa prajurit-prajurit tersebut.

Kalimat ‘siap gerak’ dan sebagainya seakan terngiang di telingnya. Ridho rasanya ingin mengulangi kata-kata itu ketika dirinya menjadi pemimpin upacara di sekolah.

Terbersit di hati Ridho, ‘betapa garangnya para tentara dengan menggunakan pakaian loreng’ warna hijau. Angan Ridho melayang jauh, mengingat kembali impiannya masa itu.

Apalagi gelaran TMMD ke-103 ini singgah di kampungnya. Ridho dengan senang hati membawa para TNI membangun desanya. Mulai dari gotong royong, membersihakan selokan hingga merebah sejumlah rumah ibadah hingga infrastruktur.

Namun sejauh ini Ridho tak mengetahui kenapa pakaian seragam TNI harus berwana loreng hijau. Terlepas dari kegiatan TMMD tersebut, PODIUM coba mengulas seragam loreng tentara Indonesia.

Dikutip dari beberapa literatur, seragam dengan motif loreng dilengkapi dengan topi baret dengan warna menyesuaikan pangkat seolah menjadi ciri khas tentara Indonesia.

Motif loreng dengan paduan warna hijau, hitam, dan coklat tua kian membuat penampilan anggota TNI semakin gagah. Tentara harus mengenakan busana bercorak loreng demi keperluan penyamaran, terutama untuk menghindari pantauan musuh.

Mereka melakukan kamuflase yang merupakan salah satu teknik pertahanan, yakni mengacu pada metode yang digunakan untuk membuat pasukan militer agar tidak dapat terdeteksi oleh pasukan musuh.

Penerapan warna dan bahan untuk kostum perang dan peralatan militer juga digunakan untuk menyembunyikan para musuh dari pengamatan visual. Dengan menggunakan kostum bermotif loreng maka pasukan militer bisa menyatu dengan medannya serta mengurangi bahaya sebagai sasaran tembak musuh.

Bila melihat kembali ke era zaman dulu, kala itu pasukan militer tidak menggunakan busana bermotif loreng. Mereka menggunakan warna yang mencolok dan terkesan berani untuk menakuti para musuh.

Seragam loreng pertama kali digunakan pada awal 1800-an oleh sejumlah unit militer untuk melindungi diri terhadap jumlah tembakan senjata pada masa itu. Unit-unit pasukan pertama yang mengadopsi warna-warna loreng adalah Resimen Senapan ke-95 dan Resimen Senapan ke-60, yang dibuat selama Perang Napoleon di abad ke-18 untuk memperkuat garis pertempuran Inggris.

Mereka membawa sejenis senjata dengan bayonet mengenakan jaket hijau berbeda dengan resimen lain yang mengenakan jubah merah tua.

Berbeda dengan para pasukan militer asing yang menggunakan seragam berwarna coklat, anggota tentara Indonesia justru memilih warna hijau. Mengapa?

Hal ini bukan tanpa alasan, karena medan di negara Indonesia didominasi oleh pepohonan berwarna hijau, tanah, dan kayu yang berwarna coklat. TNI lebih memilih pola M81 Woodland yang sudah populer dari tahun 1981.

Jika pasukan militer Indonesia menggunakan seragam berwarna hitam, saat berperang di siang hari penggunaan warna hitam bisa menyiksa mereka. Di mana warna hitam akan lebih mudah menyerap panas. Sehingga anggota tentara yang harus berperang atau bertugas di siang hari akan lebih cepat merasa lelah atau kepanasan. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini