Beranda MEDAN TERKINI Soal Spanduk Di Masjid Al Jihad, Ketua Bawaslu: Kafir Tidak Didefinisikan SARA

Soal Spanduk Di Masjid Al Jihad, Ketua Bawaslu: Kafir Tidak Didefinisikan SARA

232
0

MEDAN (podiumindonesia.com)– Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sumatera Utara, Safrida R Rasahan, menanggapi baliho besar yang terpampang di halaman Masjid Al-Jihad Jl Abdullah Lubis, Medan Baru yang mengimbau umat Islam yang tidak memilih pemimpin nonmuslim tak melanggar aturan.

“Siapa yang kafir calon gubernur kita? Pak Djarot muslim dan Pak Edy muslim. Kalau persoalan isi spanduk di pelataran masjid itu tak ada isinya ajakan untuk memilih salah satu calon. Tak ada unsur-unsur kampanye sehingga sulit dilakukan penindakan,” ujarnya, kemarin.

Ia menyampaikan, aturan dalam undang-undang yang dilarang berkampanye di rumah ibadah, dan dalam kitab suci Al-quran memang ada penjelasan tak boleh memilih pemimpin kafir. Jadi, kafir tidak didefinisikan sebagai SARA.

Kemudian, masing-masing agama punya definisi tentang kafir jadi tidak ada unsur SARA dalam spanduk tersebut. Apalagi, spanduk itu sekadar mengingatkan sesama muslim bukan nonmuslim. Bila ada ajakan untuk memilih satu pasangan calon baru salah.

“Ketentuan plang dilarang menyebarkan isu SARA, misalnya jangan pilih Djarot karena agamanya tidak jelas. Selanjutnya, jangan pilih Edy Rahmayadi karena melayu tak jelas, agamanya Islam namun pembohong. Hal-hal itu baru SARA,” katanya.

Adapun pesan yang disampaikan dalam spanduk itu berisi tulisan “Larangan memilih/mengangkat kafir sebagai pemimpin lebih banyak dari larangan berzina, memakan daging babi dan meminum khamar/miras,”

Ketua-II Pengurus Masjid Al-Jihad, Abdul kamal KH menyampaikan, tidak ada yang salah pada spanduk itu karena hanya mengingatkan sesama muslim untuk memilih pemimpin seiman. Spanduk itu dipasang pengurus masjid sejak 10 hari yang lalu.

“Anda Muslim, pernah baca Al-quran, apa salahnya? Salahnya di mana, saya mengingatkan saudara serta anak-anak salah ? Selama ini anak-anak saya tahu berzinah hukumannya berat, tapi memilih pemimpin kafir lebih berat rupanya,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan PPP mengusung pasangan pelangi. Artinya, perpaduan antara muslim dan nasrani. Mereka mencalonkan Djarot Saiful Hidayat yang beragama Islam dan Sihar Sitorus penganut nasrani.

Ketua DPD PDIP Sumut, Japorman Saragih, mengatakan ada empat pilar kebangsaan yang diakui di Indonesia, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang-undang Dasar 1945 serta negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga, biarkan saja orang yang punya tupoksi berbicara. (PI/TRB)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini