BINJAI – Setiap hari, denyut lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Binjai, tepatnya di lajur II, seolah tersendat tanpa ampun. Kemacetan panjang menjadi pemandangan rutin yang menguras kesabaran para pengendara.
Ironisnya, kondisi kontras justru terlihat di sisi jalan seberang yang mengalir lancar tanpa hambatan berarti.
Pantauan di lapangan pada Senin (29/12/2025) menunjukkan, kemacetan yang terus berulang ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas sebuah toko klontong bernama “Sely” yang dinilai tidak tertib.
Truk-truk pengangkut barang kerap berhenti sembarangan untuk melakukan bongkar muat, memakan badan jalan dan mempersempit ruang gerak kendaraan yang melintas.
Tak hanya itu, parkir kendaraan yang semrawut di sekitar toko semakin memperparah situasi. Lajur yang seharusnya berfungsi penuh justru berubah menjadi area bongkar muat dadakan, membuat arus lalu lintas tersendat, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
“Setiap hari macet di sini, sudah biasa. Kalau lewat jam berangkat kerja atau pulang, bisa lama terjebak,” keluh seorang pengendara roda dua yang hampir setiap hari melintasi ruas jalan tersebut.
Keluhan serupa telah berulang kali disampaikan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Namun hingga kini, tidak tampak adanya penertiban serius dari pihak terkait.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai fungsi pengawasan dan penegakan aturan lalu lintas di kawasan strategis tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Perhubungan Kota Binjai maupun Kasat Lalu Lintas Polres Binjai belum memberikan keterangan resmi, upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan belum membuahkan hasil.
Sikap bungkam ini justru memperkuat kesan lemahnya respons aparat terhadap persoalan yang setiap hari dirasakan langsung oleh masyarakat.
Publik kini menanti langkah tegas dari instansi berwenang. Tanpa penertiban dan penegakan aturan yang konsisten, Jalan Jenderal Sudirman lajur II dikhawatirkan akan terus menjadi titik kemacetan kronis, sementara rasa keadilan berlalu lintas bagi pengguna jalan semakin terabaikan.








