Beranda EKONOMI Petani Sumut Masih Enggan Pakai Benih Padi Hibrida

Petani Sumut Masih Enggan Pakai Benih Padi Hibrida

275
0

MEDAN (podiumindonesia.com)- Meski potensi produktivitas yang dihasilkan jauh lebih tinggi, namun penggunaan benih padi hibrida di Sumatera Utara (Sumut) sejauh ini masih sangat rendah. Petani banyak menggunakan varietas unggul baru (VUB).

“Memang benar padi hibrida mempunyai kelebihan produksi sangat tinggi dan mempunyai kualitas beras yang pulen dan wangi. Tetapi apakah mampu berproduksi tinggi jika memiliki bermacam-macam kelemahan,” kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Sumut, Khadijah El Ramija, Rabu (11/7).

Walaupun tertulis di kemasannya tahan berbagai macam penyakit, kata Khadijah, namun ternyata di lapangan tidaklah demikian. Sebagai bukti, kata dia, banyak padi hibrida yang ditanam petani terserang hawar daun bakteri (kresek), hawar pelepah dan blast. Padi hibrida juga terbukti sangat rawan terhadap serangan hama wereng, sundep atau beluk dan ulat.

Selain itu, padi hibrida membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding varietas unggul lokal, sehingga menambah biaya produksi bagi petani. “Walaupun mempunyai bulir malai yang banyak hingga 400, tetapi seringkali bulir tersebut tidak terisi semua. Kadangkala pengisian bulir padinya juga tidak bisa penuh,” jelas Khadijah.

Dijelaskannya, di samping itu padi hibrida juga kurang memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi, sehingga hanya spot-spot lokasi tertentu yang cocok untuk penanaman padi hibrida.

Kelemahan lainnya yang membuat petani belum mau memakai benih hibrida karena benih padi hibrida tidak bisa ditanam kembali oleh petani. Hal tersebut akan menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih tersebut.

Belum lagi harga benih padi hibrida jauh lebih mahal sekitar Rp 45.000 per kg dibanding variatas unggul lokal yang hanya sekitar Rp 5.000 an per kg. Ini akan membengkakkan pengeluaran petani. Jadi penggunaan benih padi hibrida, kata dia, hanya berkisar dua sampai tiga persen dan itupun karena ada bantuan dari pemerintah saja.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut M Azhar Harahap. Menurutnya, petani belum mampu menguasai teknologi benih padi hibrida. “Kalaupun ada yang menggunakannya, kemungkinan karena petani itu mendapat bantuan benih atau sebagai ujicoba saja,” kata Azhar.

Hal itu berbanding terbalik dengan jagung. Petani di Sumut, bisa dibilang sudah 100% menggunakan benih jagung hibrida dalam setiap budidayanya. “Teknologinya sangat berbeda antara tanaman padi dengan jagung,” kata Azhar. (PI/MBC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini