T Syaiful Anhar.

DISURUH belajar tapi harus punya hape. Ke sekolah bawa hape. Ke tempat keluarga bawa hape. Tak ada hari tanpa hape. Bahkan mau tidur sampai bagun pagi pun hape tetap berada di samping. Dulu, penggunaan hape dibatasi. Anak sekolah dilarang bawa hape.

Kalau pun boleh, ya tak bisa dibawa ke dalam ruangan sekolah. Namun itu dulu, sebelum virus Corona menyerang negeri seribu pulau ini. Sekarang saja para orang tua tak punya mengeluh uang belanja. Namun juga memikirkan paket kuota anaknya.

Uang ekstra itu wajib ada di kantong para orang tua. Bagaimana kalau tak punya uang beli kuota? Nah, kalau kondisi begitu, sulit untuk memikirkannya. Pasalnya, semua pembelajaran sekolah dengan menggunakan sistem daring. Sebutan lain belajar online, yang kerap terpapar di negeri ini.

Malah, segelintir orang menyebut tak punya kuota sama dengan tak punya daya. Hidup seperti hampa. Dan itu kerap terupa di kalangan remaja. Sebenarnya pemerintah telah menyikapi dana taktis untuk memberikan kuota generasi bangsa. Triliunan dana itu dikucurkan. Terpenuhikah?

Pastinya jawaban itu, belum. Pihak sekolah cuma mendata, mendata dan mendata. Kucurannya hingga saat ini banyak yang belum terealisasi. Jadi kemana dana itu singgah. Pun sejauh ini belum diketahui, tapi niat baik pemerintah patut diacungi jempol.

Apalagi, katanya dana BOS bisa dipakai untuk dipakai untuk membelikan kuota siswa. Kadang tak masuk akalnya, kuota dibelikan malah si anak didik main ‘tiktok’. Padahal, dana kuota itu untuk belajar bukan menebar sensasi lewat ber-tiktok ria. Miris dan sedih.

Lebih parah lagi cerewet kaum ibu kepada anaknya, dicueki begitu saja. Yang penting bergaya di depan hape androit, berjoget dan entah apalah dilakukan sekalangan pelajar. Yang penting, kata remaja sebagian, eksis abis. Soal repetan orang tua nanti aja.

Kondisi ini jelas terjadi saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. PHK terus bertambah, cari duit susah, namun anehnya ber-tiktok ria makin ramai saja. Bisa saja, andai eksis ber-tiktok ria, duit juga mengalir dari sana. Ya, sekadar untung-untungan mencari rezeki di tengah kuota ‘gratis’. Andai itu benar, sah-sah saja, tapi kalau salah dan kalah, lagi-lagi orang tua yang harus putar otak membeli kuota anaknya. Nasib…..memang nasib. Negeri Kuota di Tengah Corona. (***)